Bioskop Jadi Dibuka 29 Juli? Ditentukan Hari Ini

Ragam Luapan Emosi Risma: dari Marah hingga Sujud ke Dokter

Ragam Luapan Emosi Risma: dari Marah hingga Sujud ke Dokter

Kontak Perkasa Futures - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini beberapa kali terlihat meluapkan emosinya di depan publik dari mulai marah, menangis, hingga terakhir bersujud-sujud.

CNNIndonesia.com merangkum sejumlah luapan emosi Risma yang sarat jadi perbincangan publik dalam beberapa tahun terakhir.

Taman Bungkul yang Rusak, Mei 2014

Kali pertama Risma terlihat emosional di depan publik adalah ketika ia marah besar saat mengetahui banyak tanaman di Taman Bungkul, Surabaya, rusak diinjak warga. Risma mencak-mencak kepada para pengunjung dan penyelenggara acara pada 11 Mei 2014 lalu.

Saat itu, tanaman di Taman Bungkul diketahui rusak akibat diinjak warga yang berebut es krim gratis. Risma pun tak terima. Penyelenggara acara pun jadi sasaran amarahnya.

"Lihat itu rusak semua. Sekian puluh tahun kami bikin itu, ngerti ndak. Itu semua uang rakyat," kata Risma, kepada panitia.

Sidak Pelayanan e-KTP, September 2016

Risma juga terlihat meluapkan amarahnya saat melakukan sidak di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya, September 2016 lampau.

Risma terlihat marah besar lantaran mendapati pengurusan e-KTP yang bermasalah. Hal itu pun terekam dalam liputan salah satu televisi swasta nasional Indonesia.

"Panggil ahli IT. Masa kerja pakai software begini, enggak professional. Kamu ngerti nggak," kata Risma pada anak buahnya.

Marahi ASN Saat Apel, Oktober 2017

Baca Juga : Menengok prospek bisnis investasi di tahun politik

Selanjutnya, adalah aksi Risma saat memarahi seorang aparatur sipil negara (ASN) karena kedapatan bercanda dan tak memperhatikan arahannya.

Dengan penuh amarah Risma lantas mendatangi ASN tersebut dan memintanya untuk berdiri di depan peserta apel yang lain.

Video kemarahan Risma tersebut terekam oleh kamera seorang wartawan dan akhirnya beredar viral di media sosial, pada Oktober 2017.

"Jangan ketawa, sini kamu," kata Risma, sembari menunjuk ASN tersebut.

Kantor Kecamatan Kotor, Februari 2018

Kejadian berikutnya terjadi saat Risma melakukan sidak di Kantor Kecamatan Tandes Surabaya, pada Februari 2018. Amarah Risma langsung mencuat saat mendapati kondisi kantor kecamatan tersebut tengah kotor.

Camat dan sejumlah ASN pun kena semprot. Risma bahkan membersihkan sendiri debu dan kotoran di Kantor Kecamatan Tandes tersebut.

"Liat itu, liat kantormu itu, sudah tak bersihkan!" kata Risma memarahi si camat.

Bersujud ke Takmir Masjid, Mei 2018

Aksi Risma terjadi ketika ia mengumpulkan seluruh takmir masjid di Kota Surabaya. Undangan dibuat Risma pasca rentetan teror bom di kota Pahlawan pada Mei 2018.

Hal itu dipicu saat seorang takmir memprotes redaksional undangan yang dilayangkan pihak Risma. Undangan itu berbunyi 'pembinaan kepada takmir masjid'.

Menurut salah satu takmir kalimat itu seolah menunjukkan bahwa ada yang salah dari takmir masjid. Ia pun mengusulkan agar redaksional undangan diubah menjadi 'silaturahmi takmir'.

Merespons hal itu, Risma kemudian bergegas menghampiri dan bersujud di hadapan takmir tersebut. Risma pun meminta maaf.

"Saya mohon maaf. Undangannya mendadak," ujar Risma, memohon maaf.

Sujud Syukur Risma di depan Pengusaha, Januari 2020

Berikutnya, adalah saat Risma melakukan sujud syukur saat PT Astra Internasional Tbk bersedia menjalin kerja sama dengan Pemkot Surabaya, Januari 2020.

Kerja sama tersebut bertujuan untuk membuka kesempatan anak-anak putus sekolah di Surabaya untuk magang di perusahaan tersebut.

"Jadi mereka [anak-anak putus sekolah] adalah tanggung jawab saya. Karena itu saya terima kasih sekali yang sebesar-besarnya. Bapak, kalau Astra boleh saya diberi kesempatan, saya akan sujud di depan bapak ibu sekalian," kata Risma.

Amuk Soal Mobil Lab BNPB, Mei 2020

Risma kembali marah besar ketika mendapati dua mobil untuk tes virus corona (Covid-19) yang dikirim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diambilalih Pemprov Jawa Timur.

Padahal, menurut Presiden UCLG-ASPAC tersebut, dua mobil lab PCR itu khusus diperuntukan tes masif corona di Surabaya.

"Teman-teman lihat sendiri kan, ini bukti permohonan saya dengan Pak Doni, jadi ini saya sendiri yang memohon kepada beliau. Kasihan pasien-pasien yang sudah menunggu," kata Risma.

Risma lantas menelepon pihak Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur. Di depan media, dia mengutarakan kekesalannya. Risma mengaku tak terima dengan sikap Pemprov Jatim yang mengalihkan mobil dari BNPB ke Tulungagung dan Lamongan.

"Saya dapat WhatsApp Pak Doni Monardo kalau (Mobil Lab Bio Safety Level 2) itu untuk Surabaya. Apa-apaan ini, kalau mau boikot jangan gitu caranya. Saya akan ngomong ini ke semua orang. Pak, saya enggak terima lho Pak, betul saya enggak terima," kata Risma saat menelepon petugas Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur dengan nada tinggi.

Sujud di Kaki Dokter , 29 Juni 2020

Baru saja terjadi adalah aksi Risma yang mendadak bersujud di hadapan para dokter. Matanya memerah, dan tampak menangis. Sujud itu bahkan dilakukan Risma sebanyak dua kali.

Hal itu terjadi saat ia mendengarkan keluhan dokter-dokter yang ada di rumah sakit rujukan di Surabaya, salah satunya Ketua Pinere RSUD dr Soetomo, dr Sudarsono, di halaman Balai Kota Surabaya, Senin (29/6).

Mulanya, Sudarsono mengeluhkan kondisi RSUD dr Soetomo yang kini telah overload akan pasien corona (Covid-19). Ia menyebut banyak pasien yang akhirnya tak tertangani dengan baik. Mendengar hal itu Risma pun akhirnya bersujud.

"Mohon maaf Pak Sudarsono, saya memang goblok, gak pantas saya jadi Wali Kota Surabaya," ujarRisma, sembari bersujud.

Sebelum bersujud, Risma juga sempat mengeluhkan mengapa dirinya sulit berkomunikasi langsung dengan rumah sakit milik Pemprov Jatim itu.

"Kami tidak terima. Karena kami gak bisa masuk kesana [RSUD dr Soetomo untuk komunikasi]," ujarnya.

Bahkan, wali kota perempuan pertama di Surabaya itu mengatakan bantuan alat pelindung diri (APD) yang dikirimkan pihaknya untuk Soetomo, juga ditolak.

"Saya itu ngasih APD ke RSUD dr Soetomo, juga ditolak. Ada buktinya penolakan," ujarnya.