Kontak Perkasa | Pakai GPN, Data Nasabah Tidak 'Jalan-jalan' Lagi ke Luar Negeri

Kontak Perkasa | Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh Maksimal 5,1%

Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh Maksimal 5,1%

Kontak perkasa - Siang nanti Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis tentang data pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2018. Para pengamat ekonomi memprediksi pertumbuhannya tidak lebih dari 5,1%.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), Bhima Yudhistira memprediksi pertumbuhan ekonomi RI di kuartal I tahun ini sebesar 5,07% (yoy). Alasannya konsumsi rumah tangga yang masih sedikit terkontraksi, ditunjukkan oleh data indeks penjualan riil yang melambat khususnya pembelian durable goods atau barang tahan lama.

"Penjualan kendaraan khususnya roda empat Januari-Maret tumbuh 2,8% (yoy) lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus untuk penjualan kendaraan pribadi justru anjlok -2,3% (data Gaikindo)," kata Bhima kepada detikFinance, Minggu (6/5/2018).

Baca juga : Bitcoin 'Bikin Sakit', Lebih Baik Pilih Emas

Bhima menambahkan, porsi konsumsi rumah tangga yang dominan sebesar 56% terhadap PDB diperkirakan tumbuh stagnan 4,9-5%. Hal itu menjadi indikasi awal bahwa ekonomi masih belum berada ditahap ekspansi.

"Dari sisi investasi masih belum ada kenaikan yang signifikan berhubung faktor musiman awal tahun biasanya realisasi investasi kecil, baru di semester II akan terlihat adanya kenaikan. Pertumbuhan investasi prediksinya 7%. Porsi investasi diperkirakan sebesar 31% dari PDB," tambahnya.

Selain itu dari sisi ekspor, Bhima melihat masih landai, sebab pada periode Januari-Februari tercatat defisit neraca perdagangan. Sementara surplus pada bulan Maret lebih diakibatkan perlambatan impor yang hanya tumbuh 2,13% dari bulan sebelumnya.

"Motor pendorong triwulan I berasal dari belanja pemerintah yang realisasinya lebih baik dari tahun lalu," ujar Bhima.

Sementara Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi ekonomi RI di 3 bulan pertama tahun ini tumbuh 5,10%. Prediksi itu lebih tinggi dari realisasi periode yang sama tahun lalu 5,01%, namun lebih rendah dari kuartal terakhir tahun lalu 5,19%.

Dia juga memprediksi pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 4,98-4,99%. Andil pertumbuhan masih bersumber dari peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi (PMTB/Pembentukan Modal Tetap Bruto).

"Peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga ditopang oleh daya beli masyarakat yang terjaga. Terjaganya daya beli masyarakat terlihat dari peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan realisasi penyaluran bantuan sosial. PMTB diperkirakan tumbuh sekitar 7,30%, terindikasi dari realisasi investasi bangunan yang meningkat sepanjang kuartal I tahun ini serta peningkatan investasi non-bangunan ditunjukkan dengan kenaikan laju impor barang modal," terangnya.

Baca juga : Menengok prospek bisnis investasi di tahun politik

Sementara itu, Josua yakin konsumsi pemerintah kembali meningkat menjadi sekitar 3,95% dari kuartal sebelumnya 3,81%. Peningkatan laju konsumsi pemerintah terindikasi dari realisasi penyerapan belanja pegawai, belanja barang dan belanja sosial.

Sementara itu, net ekspor diperkirakan melambat seiring laju impor yang melampaui laju pertumbuhan ekspor sepanjang periode Januari-Maret 2018. Sedangkan dari sisi produksi, kontribusi sektor manufaktur diperkirakan masih flat sementara laju sektor-sektor jasa yang tumbuh lebih cepat daripada sektor padat karya.

"Ke depannya, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih optimal lagi, investasi diharapkan meningkat di kisaran 6,5%-7,0% pada tahun ini," lata Josua.

Untuk mencapai laju pertumbuhan tersebut, Josua mengatakan pemerintah perlu meningkatkan keyakinan pelaku usaha untuk berinvestasi dengan melakukan penataan regulasi dan birokrasi di tingkat pemerintah pusat dan daerah. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kemudahan berusaha serta melakukan integrasi sistem perizinan yang ramah terhadap investor.

Baca juga  : Tahun 2018, Bisnis Investasi Dinilai Tetap Menarik

"Secara khusus, pemerintah perlu mendorong insentif bagi investasi di sektor industri pengolahan yang masih menjadi pendorong utama perekonomian. Dengan merevitalisasi industri manufaktur, produktivitas nasional meningkat diikuti dengan pengembangan inovasi, diharapkan dapat mendorong peningkatan nilai tambah barang ekspor terutama barang ekspor non-migas yang pada akhirnya dapat mendorong kinerja ekspor nasional serta meningkatkan pendapatan masyarakat," tutupnya.