Kontak Perkasa | Banyak Gerbang Tol Sudah Dijaga 'Robot', Bagaimana Nasib Manusianya?

Banyak Gerbang Tol Sudah Dijaga 'Robot', Bagaimana Nasib Manusianya?

Kontak Perkasa - Sejak Oktober 2017 pemerintah resmi menetapkan transaksi non tunai di seluruh gerbang tol di Indonesia. Hal itu salah satu upaya pemerintah dalam mengejar inklusi keuangan.

Dengan transaksi non tunai, maka diseluruh gerbang tol hanya ada mesin alat transaksi. Di mana pengendara hanya menempelkan uang elektronik berupa kartu ke mesin tersebut.

Tenaga manusia yang sebelumnya melayani transaksi pun mulai tersingkir. Lalu bagaimana nasib manusia setelah hampir dua tahun transaksi non tunai di jalan tol?

detikFinance telah menghubungi beberapa operatol jalan tol baik perusahaan pelat merah atau BUMN maupun swasta yang beroperasi di tanah air. Seperti PT Jasa Marga (Persero), yang mengaku memiliki program pemberdayaan pegawai yang terkena dampak kebijakan otomatisasi.

PT Jasa Marga pernah mengungkapkan bahwa penerapan elektrifikasi pada gerbang tol memberikan dampak kepada 1.351 penjaga gerbang tol. Corporate Secretary (Corsek) Jasa Marga Agus Setiawan mengatakan, program pemberdayaan pegawai tersebut dinamakan Alife.

Adapun, dalam program tersebut para pegawai yang terkena dampak otomatisasi diberikan pilihan-pilihan, mulai dari alife pertama pindah menjadi staf di kantor pusat. Kedua, pindah menjadi staf di kantor cabang. Ketiga, menjadi pegawai di anak usaha. Keempat, menjadi wiraswasta di rest area jalan tol milik perseroan. Kelima, pensiun dini.

"Kita punya program untuk solusi elektrifikasi peralatan tol. Diberi nama Alife," kata Agus kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Hal yang sama juga dilakukan oleh operator jalan tol swasta seperti PT Astra Infra Toll Road yang memutuskan untuk mengalokasikan petugas gerbang tol ke bagian lain. Head of Corporate Communication PT Astra Infra Toll Road Danik Irawati mengatakan pihaknya sampai saat ini masih mengalokasikan penjaga gerbang tol ke bagian lain yang berada di kantor gerbang tol.

"Kalau ngomong elektrifikasi kan tidak semua hilang, di gerbang tol kan ada pengawas itu kan ada yang disalurkan ke fungsi-fungsi itu, ada yang disalurkan ke fungsi lain. Intinya itu," jelas Danik.

PT Jasa Marga (Persero) mengumumkan bahwa banyak pegawai yang menjadi penjaga gerbang tol pindah ke anak usaha.. Hal itu seiring diterapkannya transaksi non tunai gerbang tol di seluruh Indonesia.

Corporate Secretary Jasa Marga Agus Setiawan mengatakan sebagian penjaga gerbang tol pindah ke bagian seperti admin dan training centre.

"Saat ini sebagian masih pegawai bertugas di tempat lain seperti administrasi, training centre dan lain-lain di Jasa Marga, dan sebagian ditempatkan di anak usaha," kata Agus kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Raddy L Lukman, General Manager Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek (Japek) menyebut, para pegawai khususnya penjaga gerbang tol diberikan kebebasan untuk memilih. "Dari lima pilihan itu banyak yang meminatinya, prosesnya sudah beberapa tahap, banyak minatnya, sampai tahap ketiga juga," ujar Raddy.

Menurut Raddy, bagi pegawai Jasa Marga yang pindah ke anak usaha pun akan mendapatkan promosi jabatan, bahkan dapat memilih bekerja dekat dengan kampung halamannya. Keistimewaan itu hanya bisa didapat bagi pegawai yang sebelumnya bekerja di gerbang tol dekat dengan kampung halamannya.

"Di gerbang mungkin dibuka peluang promosi bisa naik menjadi kepala shift, banyak ruangnya, itulah yang menjadi menarik, setelah itu tidak ada ruang putus malah dipromosikan," jelas dia.

Baca Juga : Bitcoin 'Bikin Sakit', Lebih Baik Pilih Emas

Dampak kebijakan penerapan transaksi non tunai di gerbang tol seluruh Indonesia juga memiliki efek samping. Salah satunya memberikan dampak signifikan bagi pegawai sebagai penjaga gerbang tol.

Padahal klaim beberapa perusahaan jalan tol seperti PT Jasa Marga (Persero) dan PT Astra Infra Toll Road memberikan program pengalihan bagian pekerjaan.

detikFinance mendapat kesempatan untuk mewawancarai mantan petugas gerbang tol dan yang masih bekerja yaitu Taufik Ferdiyanto. Dia adalah mantan pegawai PT Jakarta Lingkar Barat Satu, yang berada di ruas JORR W1 yang menghubungkan Kebon Jeruk JORR W2 dan Jakarta-Tangerang ke Jalan tol Bandara Sedyatmo.

Dia mengaku pada saat kebijakan transaksi non tunai mau diberlakukan, pihak manajemennya sudah memindahkan beberapa petugas penjaga gerbang tol ke bagian pekerjaan yang masih kosong.

"Kaya ke bagian admin, keuangan, ke bagian pengamanan lalu lintas, ke bagian sentral komunikasi," jelas Taufik kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Kebetulan, pada saat itu, dirinya dan tujuh rekan kerjanya dipindah ke bagian lain yang masih berada di gerbang tol, yaitu sebagai teknisi. Menurut dia, tugasnya pada saat itu untuk maintenance atau perawatan sistem gerbang tol.

Seiring waktu berjalan, kata Taufik, pihak manajemen pun menerapkan sistem penilaian kinerja bagi seluruh pegawai yang ada di gerbang tol. Apalagi untuk pegawai gerbang tol di Jakarta Lingkar Barat Satu statusnya kontrak.

Untuk mendapatkan perpanjangan kontrak, pihak manajemen menilai dari sisi kinerja. Menurut Taufik, pada saat itu delapan orang termasuk dirinya tidak diperpanjang lantaran kinerja dianggap kurang kompeten.

Hingga saat ini, dirinya mengaku masih menganggur alias mencari pekerjaan yang sesuai keinginannya. Namun, beberapa temannya sudah ada yang bekerja sebagai buruh pabrik.

Sejak Oktober 2017 atau hampir dua tahun pemerintah telah mengimplementasikan transaksi non tunai pada seluruh gerbang tol di Indonesia. Selama itu juga menandakan bahwa tidak ada lagi jasa manusia langsung melayani setiap transaksi di gerbang jalan tol.

Tenaga manusia kini sudah bisa digantikan oleh mesin atau robot. Namun, apakah selama implementasi non tunai di gerbang tol memberikan banyak hal positif atau justru malah banyak hal negatifnya?

Beberapa pengamat menilai implementasi transaksi non tunai atau hanya tap kartu elektronik di jalan tol banyak memberikan hal positif. Piter Abdullah Redjalam, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyebutkan hal positif dari transaksi non tunai di gerbang tol adalah tidak adanya antrean.

Selanjutnya, transaksi non tunai juga membuat masyarakat pengguna menjadi lebih disiplin dan mendalami pasar keuangan dengan memiliki uang elektronik.

Begitu juga kata Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas, dirinya menilai transaksi non tunai lebih banyak positifnya dibandingkan dengan negatifnya.

Sedangkan sisi negatifnya, mereka berdua sepakat bahwa dengan non tunai maka ada korban, yakni para penjaga pintu tol. Namun, hal tersebut mampu diatasi dengan kebijakan para perusahaan operator jalan tol yang memberikan kesempatan pindah ke bagian yang lain.