Kontak Perkasa | 70% Wilayahnya Lautan, Kok Indonesia Masih Impor Ikan?

70% Wilayahnya Lautan, Kok Indonesia Masih Impor Ikan?

Kontak Perkasa - Wilayah Indonesia terdiri dari 70% wilayah lautan dan 30% daratan. Maka dari itu hasil laut yang diperoleh pun pasti berlimpah.

Namun, Indonesia masih mengimpor ikan dari beberapa negara tetangga. Hal tersebut juga ditegaskan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang menyarankan jangan impor ikan jika jenisnya bukan yang khusus.

Apa alasan Indonesia masih impor ikan?

Guna meredam keperkasaan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menguat terhadap rupiah, pemerintah segera merumuskan kebijakan yang mampu mendorong kinerja ekspor nasional. Selain menggenjot ekspor pemerintah juga saat ini tengah mempererat berbagai barang impor untuk masuk ke Indonesia, salah satunya ikan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan ada sejumlah produk perikanan yang juga masih dipenuhi dari impor. Ia mengatakan seharusnya tidak ada lagi impor ikan karena produksi ikan kita sudah melimpah.

Menanggapi hal tersebut Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Rifky Effendi Hardijanto menjelaskan, ikan yang diimpor ada berbagai jenis dan berbagai kebutuhan seperti kebutuhan industri pakan dan juga konsumsi.

"Jadi kalau kita impor itu adalah ikan-ikan yang ikannya tidak ada di perairan kita. Salmon atau jenis ikan lainnya kemudian ada banyak ikan juga yang kita ambil untuk kepentingan industri misalnya sarden makarel," jelas dia kepada detikFinance, Selasa (25/9/2018).

Rifky menjelaskan jika pun impor, jumlah ikan yang dibawa ke Indonesia masih dalam jumlah yang kecil.

"Ikan-ikan yang diimpor itu kan jumlahnya kecil sekali," kata dia.

Ia menjelaskan, nilai impor ikan di Indonesia hanya US$ 200 juta atau setara Rp 2,9 miliar dengan kurs Rp 14.905. Sementara itu neraca perdagangan ikan di Indonesia masih di atas US$ 2 miliar.

"Neraca kita masih bagus banget karena nilai impor kita nggak sampai US$ 200 juta di tahun lalu ya per smester. Jadi neraca kita itu masih di atas US$ 2 juta dolar, sementara neraca perdagangan ikan kita masih di atas US$ 2 miliar," jelas dia.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri ikan di dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor berbagai jenis ikan dari beberapa negara. Beberapa di antaranya yaitu dari Oman, Tiongkok, Jepang sampai Pakistan.

Hal tersebut dijelaskan Ketua Bidang Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Thomas Darmawan.

"Sekarang kan kita banyak impor ikan sarden dan makarel untuk ikan kaleng kan. Itu kan diimpor dari Oman, Tiongkok, Jepang dan Pakistan" ujarnya kepada detikFinance, Selaa (25/9/2018).

Ia menjelaskan, meski Indonesia memiliki lautan yang luas dan jenis tangkapan ikan yang lengkap, jumlah untuk setiap jenisnya masih kurang untuk memenuhi kebutuhan industri.

"Masalahnya ikan di kita itu lengkap dan beragam, hanya saja jumlahnya sedikit sedikit," katanya.

Thomas mengatakan, beberapa ikan juga yang diolah untuk dikonsumsi juga tidak hidup di lautan Indonesia, sehingga kebutuhan akan ikan perlu disuplai dari negara lain.

"Karena perubahan iklim, jadi ikan impor untuk diolah itu harus tetap hidup," jelas dia.

Baca juga : Ini Investasi yang menarik di Tahun Politik

Indonesia ternyata mengimpor tepung ikan dan udang untuk kebutuhan pakan ternak. Hal tersebut dijelaskan Ketua Bidang Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Thomas Darmawan.

"Tepung ikan itu diimpor untuk kebutuhan industri perikanan tapi juga pengolahan pakan ikan, pakan ternak," kepada detikFinance, Selasa (25/9/2018).

Thomas mengatakan kebutuhan akan tepung ikan dan udang merupakan salah satu bahan utama untuk memenuhi kebutuhan protein ternak.

"Semua pengolahan pakan ternak itu menggunakan tepung ikan itu sebagai sumber protein," katanya.

Meski Thomas tidak menjelaskan secara spesifik soal besaran impor tepung ikan dan udang yang berasal dari Eropa.

"Untuk pakan ternak dan tepung itu dari Chili, Peru dan Eropa ya. Kemudian kita impor tepung ikan dan tepung udang itu untuk kebutuhan ternak dan pakan ikan," ujarnya.

Ketua Bidang Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Thomas Darmawan menjelaskan, soal sentilan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut tidak perlu lagi impor ikan bila jenis ikannya tidak langka. Thomas menjelaskan, setuju akan hal tersebut namun kebutuhan akan ikan impor memang untuk jenis ikan tertentu yang tak ada di Indonesia.

Umumnya ikan yang diimpor adalah permintaan khusus seperti untuk kebutuhan restoran.

"Kita impor ikan-ikan mahal, yang dipakai untuk orang orang asing. Misalnya ikan salmon, trout. Intinya kan yang dipakai untuk restoran-restoran internasional dari restoran itu kan juga termasuk impor," jelasnya kepada detikFinance, Selasa (25/9/2018).

Beberapa jenis ikan salmon dan trout memang khusus disediakan untuk para wisatawan yang datang ke Indonesia.

"Salmon, trout ada juga dari ikan Jepang dan itu digunakan untuk orang- orang Jepang. Kalau itu bisa ada di Indonesia nggak usah impor," katanya.

Masalah impor ikan tengah menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani menyentil masih adanya impor ikan meskipun RI memiliki lautan yang sangat luas.

Ketua Bidang Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Thomas Darmawan menjelaskan, memang benar Indonesia hingga saat ini masih melakukan impor ikan. namun, lanjut dia, intensitasnya sudah mulai berkurang.

Menurutnya, mulai berkurangnya impor ikan karena para pengusaha ikan di Indonesia mulai memperkuat dan meningkatkan kualitas produksi dalam negeri. Contohnya saja, lanjut dia, untuk impor ikan fillet patin dan dori.

"Kita dulu impor filet ikan patin dan dori. Sejak lima tahun lalu, namun itu sudah mulai dikurangi ya," katanya kepada detikFinance, Selasa (25/9/2018)

Ia menjelaskan dalam durasi lima tahun terakhir budidaya ikan mulai ditingkatkan untuk mensuplai kebutuhan dalam negeri. Namun demikian, ia mengaku masih ada tantangan dalam produksi ikan di dalam negeri masih kalah saing dibandingkan harga ikan Vietnam.

"Sebenarnya bisa diganti di dalam negri. Tapi kan budidaya ikan patin di dalam negeri ini belum (bisa bersaing) seperti harganya. Nggak bisa bersaing dengan Vietnam, karena harga ikan patin di Vietnam itu bisa lebih murah," jelasnya.

Thomas mengatakan, produksi ikan patin di Vietnam lebih terintegrasi. Misalnya untuk proses pembibitan, peternakan sampak pabrik olahan ada dalam satu lokasi yang luas. Hal tersebut yang membuat biaya operasional dan transportasi terpangkas dan membuat harga ikan patin di Vietnam menjadi lebih murah.

"Karena lebih terintegrasi. Ada kolam disana juga ada pakannya, kemudian ada pabrik, pembibitan itu sudah ada di satu lokasi. Ini sebuah tantangan bagi kita," paparnya.