Rupiah Tembus Rp14.307 Gara-gara Kenaikan Yield Obligasi AS

Mengincar Saham Cuan di Saat IHSG Sedang 'Merah Membara'

 Mengincar Saham Cuan di Saat IHSG Sedang 'Merah Membara'

Kontak Perkasa Futures - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 'merah merona' pada perdagangan pekan lalu karena terkoreksi 7,05 persen, dari 6.307 dan berakhir di level 5.862.

Asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp374,93 miliar sepanjang pekan.

Direktur Mega Investama Hans Kwee menyebut kejatuhan indeks beriringan dengan pelemahan di berbagai bursa dunia dari Wall Street, bursa Asia, maupun Eropa.

Secara garis besar ia menyebut ada dua faktor besar yang membuat indeks anjlok. Pertama, valuasi pelbagai emiten secara kolektif yang sebelumnya mengangkat indeks kini dianggap mulai kemahalan.

Kedua, terjadi sentimen negatif secara beruntun setelah euforia ditemukannya vaksin dan pelantikan Presiden Amerika Serikat (AS) berakhir.

Salah satu faktor utama pelemahan, lanjutnya, datang dari Biden yang memberi sinyal terbuka untuk menyusun ulang proposal stimulus covid-19 senilai US$1,9 triliun. Stimulus yang sejatinya menjadi sentimen positif bagi indeks, kini malah berbalik arah.

Sikap ini membuat pelaku pasar kecewa. Pasalnya, selain berpotensi membuat jumlah stimulus menurun, negosiasi juga lebih alot dari ekspektasi.

"Stimulus Biden yang selama ini menjadi alasan positif kemungkinan akan tertunda sampai 4-6 minggu ke depan karena stimulus yang dirancang Biden banyak dikritik anggota Senator Republik," kata Hans kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/2).

Selain itu, ia menambahkan satu-satunya 'obat' andalan pemulihan ekonomi yakni vaksin covid-19 juga tidak semulus yang diperkirakan. Di Uni Eropa, terjadi masalah pasokan vaksin.

Guna mempercepat penyuntikan, kini diizinkan penggunaan vaksin AstraZeneca.

Selain pasokan, distribusi pun menghadapi tantangan. Ia menyebut kesulitan distribusi tampaknya akan terjadi di berbagai belahan dunia lain, tak terkecuali di Indonesia.

Baca Juga : Menengok prospek bisnis investasi di tahun politik

"Masalah ini membuat vaksin mungkin tidak akan efektif dalam dua sampai tiga bulan ke depan. Hal ini memaksa banyak negara melakukan lockdown ketat untuk mencegah penularan virus covid 19 yang berpotensi merusak pemulihan ekonomi yang sedang terjadi," terangnya.

Di Indonesia, mengutip Antara, per Sabtu (30/1) sebanyak 482.145 tenaga kesehatan (nakes) dari total target tahap pertama yakni 1,5 juta orang telah disuntik.

Saat ini, jumlah penyuntikan vaksin baru mencapai 50 ribu orang per hari. Sedangkan, jika pemerintah ingin mengejar herd immunity dalam setahun, maka minimal diperlukan penyuntikan sebanyak 518 ribu orang per hari.

"Jumlah pelaksanaan vaksin harian 50 ribu orang per hari di bawah target 900 ribu orang per hari," katanya.

Pelaksanaan distribusi vaksin yang lambat tampaknya sudah diantisipasi oleh International Monetary Fund (IMF) yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 sebesar 4,8 persen. Proyeksi ini lebih rendah 1,3 persen bila dibandingkan dengan estimasi IMF pada Oktober 2020.

Hans menyebut revisi proyeksi pertumbuhan juga bakal dialami berbagai negara dunia lainnya. Ini menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.

Untuk pekan ini, Hans memperkirakan beberapa berita negatif masih akan menekan perdagangan di awal pekan. Namun, ia melihat potensi rebound teknikal menjelang pertengahan dan akhir pekan.

Dia meramal indeks akan bergerak di level support 5.563-5.700 dan resistance di level 6.068-6.154.

Hans menyarankan investor untuk tidak melakukan panik jual. Ia justru menyarankan mereka untuk mulai melakukan akumulasi beli atas saham-saham berfundamental baik yang tengah terkoreksi.

Dia mengatakan pelaku pasar bisa mencermati beberapa saham yang berpotensi mengalami rebound teknikal seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Ia meramal saham itu berpeluang menguat hingga ke level 1.310-1.330.

Dia menyarankan beli di level 1.160-1.285, namun jual jika turun ke level 1.130.

Kemudian, saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA berpeluang menguat sampai ke 334. Hans merekomendasikan beli di area 280-306, namun jual jika harga turun dari level 274.

Dia juga melihat potensi penguatan di dua saham sektor properti, untuk PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), berpotensi naik hingga ke 234. Area akumulasi ada di 182-200 dan area jual 178.

Terakhir, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan peluang penguatan di rentang 995-1.020 dengan rentang akumulasi 885-960 dan cut loss jika saham turun di bawah 860.

Strategi Raup Cuan Kala Indeks Koreksi

Analis Saham Ellen May menyebut dalam keadaan koreksi, pelaku pasar bisa menjadikannya sebagai peluang cuan. Umumnya, strategi yang digunakan adalah buy on weakness (BOW) atau beli di harga bawah.

Strategi BOW adalah strategi membeli saham di harga rendah untuk mengantisipasi reversal atau pembalikan arah. Pembelian dilakukan ketika harga sudah mengalami kejatuhan beberapa hari dan signifikan.

"Penurunan harga tersebut juga diikuti tekanan jual yang sudah berkurang atau sudah oversold. Sehingga, risiko lebih kecil ketika membeli saham di support," jelas Ellen dalam risetnya.

Pendiri Ellen May Institute ini mengatakan saat indeks mengalami tren penurunan, strategi BOW cocok untuk diterapkan.


Namun, hal lainnya yang harus diperhatikan adalah keaktifan saham tersebut. Jika saham yang dipilih tidak memiliki volume yang cukup, ada potensi harga tidak langsung rebound tapi tetap bergerak di area support.

Dia mengingatkan bahwa strategi digunakan untuk jangka pendek dalam memanfaatkan rebound saham-saham yang tertekan. Dalam menggunakan strategi BOW, Ellen menyebut rencana dan kedisiplinan menjadi kunci dalam keberhasilan.