Kontak Perkasa | 70% Wilayahnya Lautan, Kok Indonesia Masih Impor Ikan?

Kontak Perkasa | Upaya Indonesia Pecahkan Rekor Dunia Tari Poco-poco....

Upaya Indonesia Pecahkan Rekor Dunia Tari Poco-poco....

Kontak Perkasa - Diperkirakan sebanyak 65.000 orang berkumpul di kawasan Monas hingga Jalan Sudirman-Thamrin, Minggu (5/8/2018) pagi.

Mereka mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan pinggang dan ikat pinggang dengan corak kain songket berwarna dominan merah berbaris rapi.
Sejumlah sound system diletakkan di sejumlah sisi Jalan Sudirman-Thamrin hingga Monas.

Kemarin, Indonesia mengupayakan pemecahan rekor dunia tari poco-poco dari Guinness World Records (GWR) jelang digelarnya Asian Games 2018.

Acara tersebut menjadi lebih spesial dengan kehadiran Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi didampingi sang Istri, Iriana Jokowi. Hadir juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla bersama istri, Mufidah Jusuf Kalla.

Tak ketinggalan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
Sejumlah mentri pun hadir yakni Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

"Bapak ibu sekalian, saya hanya ingin mengucapkan selamat berpoco-poco, semoga kita semuanya sehat, rakyat kita sehat, negara kita kuat, terima kasih," ujar Jokowi, dalam sambutannya, Minggu.

Baca juga : Tahun 2018, Bisnis Investasi Dinilai Tetap Menarik

Selama 10 menit, para pejabat negara bersama ribuan warga yang hadir mengenakan setelan baju warna putih dengan hiasan kain dan ikat kepala merah memeragakan gerakan poco-poco.

Para peserta menunjukkan antusiasmenya memperagakan gerakan tarian khas bangsa Indonesia ini.

Proses panjang

Wakil Ketua Bidang Media dan Promosi upaya pemecahan rekor tari poco-poco Fernando Repi mengatakan, rekor tersebut belum resmi terpecahkan meskipun sekitar 65.000 orang telah menari poco-poco.

"Ini masih proses (penilaian oleh Guinness World Records," ujar Fernando, ketika dihubungi Kompas.com, Minggu.

"Ini masih upaya pemecahan (rekor dunia tari poco-poco). Tadi pagi itu upaya," ujar dia lagi.

Menurut dia, pemecahan rekor tari poco-poco ini harus melalui proses yang panjang. Ia menyebut, proses dimulai sejak tahun lalu.

"Jadi ini kan, sebenarnya proses pencatatan itu untuk GWR itu beda dengan MURI (Museum Rekor Indonesia) karena proses penilaiannya kan juga beda. Kami sudah mengajukan rencana ini sekitar setahun yang lalu," sebut dia.

Setelah menerima proposal panitia, tim GWR melakukan kajian terlebih dahulu mengenai asal mula tarian poco-poco.

"Jadi, ini kan kami mengajukan kategori baru. Jadi, kami harus sebut berapa jumlah peserta yang akan ikut dalam upaya ini. Lalu, apakah betul poco-poco ini pertama kali dikenal dunia dari Indonesia," sebut dia.

Persetujuan GWR terkait rencana ini baru diterbitkan sekitar empat bulan yang lalu. Setelah menerima surat persetujuan, panitia segera melakukan persiapan.

Menurut dia, persiapan itu meliputi pencarian massa, sosialisasi gerakan dan persiapan kelengkapan lain termasuk tempat dan kostum.

Sosialisasi gerakan poco-poco dilakukan melalui video yang ditayangkan di berbagai media sosial dan media massa.

Dalam pelaksanaannya, tim GWR pun memberi berbagai peraturan untuk memastikan hasil upaya pemecahan rekor ini valid.

"Setiap peserta masuk kawasan Monas itu ada barcode khusus untuk memastikan jumlah peserta tak kurang dari yang kami usulkan. Lalu, dari 65.000 orang, harus kami bagi menjadi 1.300 barikade. Setiap barikade ada steward yang merupakan perwakilan GWR untuk memastikan gerakan peserta benar," sebut dia.
Ia mengatakan, itulah sebabnya mengapa tak sembarang orang bisa masuk ke area pemecahan rekor demi mengondisikan upaya ini.

Setelah itu, nantinya ada tim audit dan penimbang yang independen untuk menilai apakah rekor ini terpecahkan atau tidak.

Ia mengatakan, jika terjadi 10 persen peserta yang melakukan kesalahan gerakan saja, maka upaya ini bisa gagal.

"Jadi, begitu rumitnya. Doakan saja upaya ini terpecahkan," pungkas Fernando.