Sejuta Sensor yang Besarkan Dunia Perfilman China



Kontak Perkasa - Di balik penduduknya yang mencapai lebih dari satu miliar, China punya sejuta aturan ketat. Mulai jumlah anak, cara hidup, sampai penayangan film dan program televisi di dunia hiburan. Meskipun terkesan ketat, masyarakat China ternyata terbuka menerima aturan itu.

Itu disampaikan Yuan Li, seorang produser di bidang pertelevisian terkemuka di China. Banyak yang protes dan memandang aturan itu sebagai bentuk kekangan dari pemerintah. Namun sebagai pelaku industri hiburan, Li justru tenang dan menganggap aturan itu hal positif.

“Sebenarnya sensor berfungsi menahan diri dari keinginan terburu-buru akan hasil. Ini juga mendorong sineas lebih rasional dan orisinil,” katanya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di Singapore Media Festival di Marina Bay Sands Singapura, Senin (6/12).

Ia justru merasa sensor itu mendorong kreativitas. “Meski sulit juga melakukan sesuai peraturan yang ada. Untuk itulah, perlu kerja sama tim dalam sebuah kreativitas," kata Li.

"Sensor yang selama ini diterapkan dapat kami terima dan kami mengikuti peraturan itu. Peraturan itu membuat kami berpikir alternatif. Kami ingin mengisahkan cerita dengan baik dan ide kreatif yang menghibur. Itu lebih penting dibanding memikirkan masalah sensor."

Aturan China—di dunia hiburan saja—sudah menyentuh banyak hal. Menurut kantor berita lokal Xinhua News yang dilansir CNN, China memberlakukan aturan yang melarang tayangan yang menampilkan gaya hidup Barat. Tayangan-tayangan yang memperlihatkan belahan dada perempuan juga tidak boleh disiarkan di televisi maupun bioskop di Negeri Tirai Bambu itu.

Tayangan yang mengandung unsur homoseksual pun terkena sensor. Pemerintah menganggap homoseksual termasuk kategori kebiasaan seks yang tidak normal untuk tayangan televisi.

Jangankan itu, yang lebih sensitif lagi, segala perbuatan yang dapat mendatangkan persepsi negatif atau ‘porno' seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, yaitu  konten video menggambarkan orang sedang memakan buah pisang, juga dilarang ditampilkan di televisi.

Sentimental China bukan hanya ditujukan untuk tradisi dan budaya Barat semata. Diduga akibat masalah politis soal dukungan Korea Selatan terhadap kebijakan misil Amerika Serikat, China juga ikut melarang tayangan-tayangan yang ‘berbau’ Negeri Ginseng itu.

Mengutip Morning Ledger, pemerintah China kini melarang apa pun yang berkaitan dengan dunia hiburan Korea. Terutama serial drama Descendants of the Sun. Pemerintah merasa, obsesi penggemar Descendants of the Sun di China atas paras para bintang dalam serial itu bisa berakibat buruk. Ada pria China yang sampai melakukan operasi plastik pada wajahnya.

China juga melarang tayangan yang terdapat orang sedak merokok atau minum minuman keras. Negara itu memang memiliki masalah terhadap rokok dan alkohol. Kurang lebih sebanyak 68 persen pria China merupakan perokok dan satu juta orang meninggal karena rokok pada 2010.

Larangan yang lain membuat tayangan populer Baba Qunar? atau Dad, Where Are We Going? harus mati. Kali ini berhubungan dengan anak-anak. Pemerintah China berpendapat, anak-anak seharusnya menjalani masa senang-senangnya sendiri, bukan dieksploitasi di televisi. Pemerintah China pun akhirnya melarang penggunaan anak selebriti di tayangan.