Kontak Perkasa | Negara-negara Eropa Perketat Peraturan Buat Turis

Negara-negara Eropa Perketat Peraturan Buat Turis

Kontak Perkasa - Destinasi populer di sejumlah negara Eropa semakin ramai dikunjungi turis. Hal ini rupanya tak selalu memberikan dampak yang bagus untuk warga lokal.

Pariwisata massal bagaikan pedang bermata dua. Turis-turis yang berkunjung mendatangkan pemasukan yang cukup besar bagi warga lokal. Namun di sisi lain, ramainya turis yang datang, terlebih banyak yang mulai berkelakuan buruk dan tidak sopan, membuat warga menjadi kurang nyaman.

Berbagai cara pun dilakukan untuk mengembalikan kenyamanan warga di antara ramainya traveler yang datang, di antaranya mengeluarkan aturan yang mengatur tingkah laku turis. Kebebasan turis mulai dibatasi.

Baca juga : Bitcoin 'Bikin Sakit', Lebih Baik Pilih Emas

Dari informasi yang dikumpulkan detikTravel, Kamis (26/7/2018), salah satu yang merasakan dampak buruk dari pariwisata massal adalah Venesia, di Italia. Kota dengan kanalnya yang ikonik ini begitu populer di kalangan turis lokal maupun mancanegara.

Wisatawan yang datang ke sana selama beberapa tahun belakangan ini selalu berkali-lipat jumlah penduduk lokalnya. Seperti diberitakan CNN, penduduk Venesia jumlahnya sekitar 50 ribu, tetapi turis yang datang setiap tahunnya mencapai 30 juta.

Selain suasana kota yang terasa semakin padat wisatawan, tingkah laku yang buruk pun cukup membuat warga lokal protes. Pemerintah setempat pada 2017 lalu akhirnya mulai membuat aturan yang dikemas sebagai kampanye bertajuk #EnjoyRespectVenezia.

Kampanye ini diinformasikan lewat berbagai media seperti Instagram resmi @comunevenezia. Dalam poster yang disebar, disebutkan ada aturan yang harus dipatuhi traveler kalau tak mau kena denda sampai 500 Euro (Rp 8,4 juta). Mulai dari dilarang berenang di kanal, dilarang piknik di luar area publik, tak boleh berhenti terlalu lama di atas jembatan hingga jangan membuang sampah sembarangan.

Masih di Italia, ada lagi kota yang mengeluarkan beragam aturan buat turis. Roma akan menindak tegas turis nakal yang melakukan vandalisme hingga merusak objek sejarah dengan denda jutaan rupiah.

Aturan baru juga telah berlaku di Portofino, kota kecil favorit selebriti di Italia. Dikutip dari Express, traveler tak boleh sembarangan telanjang dada, berkeliling tanpa alas kaki, memainkan musik kencang di tengah malam dan menikmati camilan di depan pintu rumah-rumah bercat pastel di pelabuhan.

Sementara untuk Italia secara umum, sampai untuk belanja pun sudah ada aturannya. Turis dilarang membeli barang palsu saat wisata pantai. Bagi yang membeli barang palsu, bisa kena denda mencapai 7.000 Euro (Rp 118 juta). Diharapkan dengan adanya kebijakan ini perdagangan barang palsu di Italia bisa berkurang.

Baca juga : 2018, Emas dan Dolar Pilihan Menarik untuk Investasi Berjangka

Selain Italia, Spanyol juga mulai jengah dengan ramainya turis. Seperti diberitakan The Local Spanyol, kunjungan turis ke negara ini mencapai 82 juta pada 2017, menggeser AS sebagai negara di dunia yang paling banyak dikunjungi turis.

Peraturannya mirip-mirip dengan yang diberlakukan di Italia. Contohnya di Pulau Mallorca, hampir sama dengan Portofino, turis dilarang jalan-jalan tanpa mengenakan atasan alias topless. Dendanya pun tidak sedikit, mencapai 3.000 Euro (sekitar Rp 50 juta).

Sedangkan untuk area kota besar Spanyol, Barcelona termasuk menjadi korban pariwisata massal. Kota berpenduduk 1,6 juta ini dikunjungi hampir 32 juta turis dalam setahun.

Warga sudah melayangkan protesnya lewat demonstrasi Juli 2017 lalu. Bahkan ada demonstran bertopeng menyerang bus wisata dan menulis kalimat 'El Turisme Mata Els Barris', pariwisata membunuh daerah lokal, di bagian kaca depan bus.

Penduduk yang mulai kesal juga menginginkan pembenahan peraturan dari otoritas setempat, pelaku bisnis hingga soal kapitalisme. Kurangnya regulasi di bidang pariwisata dirasa membuat Barcelona tak nyaman lagi untuk ditinggali.

Kemudian pemerintah setempat mulai mengimplementasikan langkah untuk mengurangi overtourism, seperti melarang tur segway di pusat kota dan memberlakukan moratorium terhadap hotel baru dan penyewaan apartemen. Hal ini memaksa Airbnb untuk melepaskan apartemen yang belum resmi terdaftar dari situsnya.

Madrid juga ikut membatasi penyewaan apartemen hanya 90 hari per tahun. Sementara Ibiza, malah langsung melarang warganya menyewakan apartemen buat turis. Baik secara langsung maupun via aplikasi.

Dalam hal peraturan penginapan, Valencia punya aturan yang sedikit unik. Kota terbesar ketiga di Spanyol ini membatasi izin penyewaan kamar baru hanya untuk kamar yang ada di lantai dasar dan lantai 1.

Dengan begitu gedung atau rumah yang baru disiapkan untuk penginapan, tak lagi bisa menawarkan kamar dengan pemandangan Valencia yang cantik. Selain itu, di Ciutat Vella, kawasan bersejarah Valencia, tak akan diizinkan lagi untuk membuat atau membuka penginapan baru.

Pilihan penginapan pun semakin sedikit menipis, mau tak mau turis harus menginap di hotel maupun hostel resmi. Mungkin ke depannya bakalan makin banyak aturan baru lagi yang harus dipatuhi turis.

Baca juga : KPF: Bisnis Investasi Masih Menarik pada 2018

Pastinya siapa pun wisatawan yang datang, agar tak terkena denda dan terhindar dari masalah, wajib mematuhi aturan dan menghargai warga lokal. Seperti kata pepatah, "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung". Pastinya warga setempat pun bakalan lebih ramah menyambut turis yang baik bukan?