Rupiah Tembus Rp14.307 Gara-gara Kenaikan Yield Obligasi AS

Pemerintah Parkir Rp15 Triliun Lagi untuk SWF Tahun Ini

 Pemerintah Parkir Rp15 Triliun Lagi untuk SWF Tahun Ini


Kontak Perkasa Futures - Pemerintah bakal menyuntikkan Rp15 triliun lagi ke Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) pada tahun ini. Tambahan modal bagi lembaga pengelola dana abadi investasi (sovereign wealth fund/SWF) itu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021.

Sebelumnya, pemerintah juga sudah memberi kucuran modal Rp15 triliun kepada LPI melalui APBN 2020.

"Ini dalam rangka memenuhi kebutuhan modal awal LPI sebesar Rp75 triliun," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rapat bersama Komisi XI DPR secara virtual, Senin (8/2).

Dengan begitu, LPI akan memiliki modal Rp30 triliun saat beroperasi tahun ini. Sementara, sisanya akan disuntik lagi oleh negara secara bertahap meski belum diungkap rincian waktunya.

"Rp45 triliun lainnya akan dipenuhi melalui inbreng saham, Barang Milik Negara (BMN), dan piutang negara," jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi. Selain itu, ia juga mengeluarkan PP Nomor 74 Tahun 2020 tentang Modal Awal Lembaga Pengelola Investasi.

Setelah itu, Jokowi menunjuk Sri Mulyani dan Menteri BUMN Erick Thohir menjadi Dewan Pengawas. Selanjutnya, Jokowi juga mengangkat tiga orang dari kalangan profesional untuk menjadi dewan pengawas.

Mereka adalah Darwin Cyril Noerhadi, Yozua Makes, dan Haryanto Sahari. Kelimanya kini melakukan seleksi untuk jajaran direksi LPI.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan jajaran direksi akan diumumkan pada pekan ini.

Baca Juga : Menengok prospek bisnis investasi di tahun politik

Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim sejumlah investor asing telah menyatakan komitmennya untuk berinvestasi di LPI dengan komitmen investasi itu mencapai US$9,5 miliar setara Rp133,03 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS).

Investor asing itu berasal dari sejumlah negara antara lain, seperti Amerika Serikat, Jepang, Kanada, hingga Belanda.